TEMAN DIKALA FAJAR DAN SENJA




Asap. . .
Ia mulai berkuasa di Kota Pekanbaru
Tangannya selalu melambai-lambai dimana-mana
Mengusap-usap kedua bola mata hingga perih

Butiran air mata pun mulai pecah
Dan kami mulai mencoba mendongeng,
Tentang kota dan kehidupan yang tengah dihujani kabut asap

Pagi, siang dan malam tak ada bedanya
Asap masih saja betah menyerbu
Hutan-belukar yang seharusnya tumbuh menghijau
Malah, hitam berabu.
Kobaran asap yang berkibar di udara pun mengelilingi negara tetangga
Nyanyian dari mereka pun bervariasi
Dan mau tidak mau, harus kita nikmati

Tempat yang dulunya untuk bermain dan tersenyum ceria
Kini sepi tak berpenghuni
Sungguh, penampakan yang miris
Uluran tangan dari berbagai kota mulai berdatangan
Namun kebanyakan dari mereka, ada juga yang seolah-olah buta dan tuli

Bukan ini yang kami inginkan
Bukan kabut asap yang kami rindukan
Tapi, dialah yang selalu setia menemani dikala fajar dan senja.


‪Note : Karya ini diikutsertakan dalam #Projectkilat_KabutAsap oleh Ajrie Publisher

0 komentar:

Posting Komentar


up