Dirimu
telah berpadu dalam jiwaku
Ganasmu
telah menguasaiku
Kini
engkau hadir bagai benalu
Bersembunyi
dibalik tubuhku yang indah
Engkau
merenggut segala yang ku punya
Semangat,
Senyuman,
dan
Keceriaan.
Rambutku
perlahan rontok
Sisir
pun tak dapat ku pakai untuk merapikannya
Aku
sudah tak berkawan lagi dengannya
Pada
malam sunyi
Kupandangi
langit yang berbintang
Sesekali
ia berkedip padaku
Tersenyum
menawan.
Ku
tunjuk satu bintang yang paling terang
Kelak,
saat aku telah sampai di ujung perjalananku ini
Aku
ingin seperti bintang Sirius selalu bersinar terang
Deru
sepoi angin datang menemani
Mengelus-ngelus
rambutku yang semakin hari kian menepis
Katanya,
“ini adalah cara tuhan menyayangimu sahabatku.”
Tapi
mengapa mesti aku?
Bukankah
usiaku terlalu dini untuk ini?
Karena
tuhan mu tahu bahwa engkau mampu
Ia
tahu bahwa kau adalah malaikat kecil yang kuat, jawabnya singkat
Kini
aku telah berada pada kamar yang tak seindah kamarku
Berbaring
pada tempat tidur yang tak empuk
Berada
pada keramaian dengan muka yang masih asing bagiku
Parfum
yang beraroma aneh
Dan
musik yang sesekali terdengar, kala air infus menetes.
Kini
hidup tak begitu berarti
Gairah
makan pun sudah lenyap.
Oh,
Tuhan. . .
Berilah
aku segenggam semangat untuk hidup
Berilah
aku secercah harapan untuk raih hidupku lagi.
Note :
Karya ini lolos sebagai kontributor dalam "Lomba Menulis Bersama Penerbit Rumah Kita, bertema "Penyakit" Dl 14-28 Maret 2016"
0 komentar:
Posting Komentar