Menjumpai para pemilik senyum
menawan, mata jeli yang memikat, dan tutur kata yang lembut tak terlupakan. Mereka,
saudariku wanita muslimah.
Bagaiman
kabarmu di sana? Adakah setiap detik yang berlalu telah kau maknai dengan
sempurna? Tahukah kau bahwa grafik hidup kita akan terus menanjak hingga sampai
ke titik tertentu, lalu kembali menurun. Dan kau saat ini sedang berada di
puncak. Ya, puncak segala-galanya. Termasuk puncak kecantikanmu yang sedang
merekah bak bunga di musim semi. Berlebihankah? Kurasa tidak, cantik.
Maka
bersamaan dengan itu, mungkin tanpa kau
sadari begitu banyak pasang mata yang menengok saat kau melintas. Belum lagi
pandangan yang mencuri-curi kesempatan dengan ujung-ujung penglihatan mereka. Meski
kau tidak pernah merasa demikian dan merasa tampil biasa-biasa saja. Tapi kau
tahulah….musuh bebuyutan kita sejak zaman nenek moyang : setan laknatullah yang
senantiasa menghiasi seorang wanita dengan berupa-rupa keindahan saat ia keluar
rumahnya.
Maka
simaklah ini, Cantik. Betapa besar fitnah yang dapat timbul dari dirimu. Fitnah
yang mungkin akan membuat saudara kita akan lebih sulit memejamkan mata di
malam hari. Atau yang membuat mereka terbata saat mengulang hafalan-hafalan
mereka. Maka mungkin ada baiknya jika kita turut membantu mereka untuk menjaga
pandangannya. Ya, dengan menjaga tampilan kita. Menjaga tingkah kita. Hmm, aku
tidak menyuruhmu untuk menjadi kaku dan menarik diri dari pergaulan. Bukankah agama
kita mengajarkan sikap wasath,
pertengahan. Maka lakukanlah segala hal sesuai dengan kapasitasnya. Sesuai dan
tidak berlebihan.
Hey,
Cantik. Aku terkadang sedih saat memandang foto-foto yang kau pajang di dunia
maya, yah, aku tahu mungkin kau menganggapnya sebagai sebuah bentuk ekspresi
diri yang menyenangkan. Tapi tahukah kau, aku selalu mencari sehelai kain yang
biasanya kau tutupkan di kepalamu, yang kerap tidak tampak saat kau muncul
lewat fotomu di halaman internet. Cantik, bukankah Allah melihat kita di mana
pun? Di dunia nyata, maupun di dunia maya, Dialah Rabb yang sepatutnya kita ibadahi dengan total. Persis seperti
totalitas saat kau mengerjakan tugas-tugas sekolah, tugas kuliah atau tugasmu
di kantor. Maka bukankah menutup aurat merupakan ibadah yang agung kepada-Nya?
Mengenakan pakaian takwa yang dipilihkan oleh-Nya. Yah, bukan oleh siapa-siapa
tapi oleh Allah. Maka kenakanlah ia dengan niat tulus yang kuyakin ada
dihatimu. Karena Allah saja, di mana pun, kapan pun.
Cantik, aku bukanlah orang yang sempurna dan suci seperti Ibunda Maryam. Mungkin diri
ini lebih hina darimu dan lebih rendah kedudukannya di hadap Allah. Tapi sungguh…..sungguh
aku khawatir akan hari di mana aku akan ditanya mengenai kewajibanku
menyampaikan hal ini padamu. Maka kusampaikan ini sebagai hakmu menerimanya. Dan
juga sebagai bukti betapa aku mencintai kebaikan pada dirimu.
Hey,
Cantik! Tetaplah menjadi yang terindah layaknya bagaimana agama ini telah
mengangkat derajat kita. Mengapa pula harus kita menutup segala keindahan itu
dan menyimpannya hingga dating orang yang ditakdirkan Allah? Sebab demikianlah
tiap insan akan memperlakukan berlian yang berharga. Ia disimpan di tempat tertutup . Tidak
sembarangan dipegang oleh siapa pun dan tidak dihargai dengan harga yang murah.
Tapi kau tahu Cntik, betapa indahnya kau dalam lindungan syariat-Nya. Semoga kita
selalu diberi kesempatan untuk saling nasihat menasihati dalam kebaikan, dan
saling nasihat manasihati dalam metapi kesabaran.
Dari
saudarimu.
NB
: Luangkan waktu untuk membuka ayat ke-31
Surah An-Nur dan Al-Ahzab ayat ke-59. Ada pesan berharga dari Allah, khusus
untuk kamu; muslimah cantik yang berharga. ^_^
Dikutip dari buku "Jeda Sejenak" karya Arrifa'ah