Usai Hujan

Kembali ku sapa
Rindu yang tak pernah berujung.
Rindu yang tak pernah bosan,
Rindu yang tak pernah jenuh,
dan. . .,
Rindu yang tak pernah terbalaskan.

Dan kutemukan dirimu diam membisu
seolah tak melihat dan mengerti

Rinai-rinai hujan telah meningatkanku
Meninggalkan bekas sepercik air di jendela kamarku

Bersama itu, kutuliskan secarik syair ini untukmu.

KATANYA NI ADALAH RINDU. . .

Kubayangkan sosok dirimu dalam memori ingatanku
Yang terkadang hadir dalam sebuah mimpi
menemani tidur lelapku
di setiap malam yang sunyi nan sepi
Katanya, . .
Ini adalah RINDU. . .

Meskipun pada akhirnya
Rasa ini terombang-ambing dalam penantian
yang entah berakhir dititik mana.
Titik bahagia,
Ataukah titik kecewa.

La Tahzan


Malam ini,
ku temui dirimu lemah
Ku temui dirimu rapuh
Diam termenung
Entah apa yg sedang engkau pikirkan
Entah apa yg sedang engkau khawatirkan.

Ku pandangi matamu,
Sayup nan basah.
Engkau menangis lagi?
Namun tak ada jawaban yg kudapati.
Matamu berkaca-kaca
Ya, sudah ku duga.
Pasti engkau sedang lagi ada masalah.
Tapi mengapa engkau menangis?
Seberat itukah masalahmu
Ayolah bercerita!
Jangan selalu memendam karena engkau akan merasakan sakit.

Oh jiwa, selemah itukah engkau?
Masih mampukah engkau menumpahkan air matamu
Masih maukah engkau menangis dan merintih setiap malam.
Ini sudah yang ke sekian kalinya.

Jiwa. . .
Cobalah lebih tegar sedikit.
Cobalah belajar untuk sabar
Bersabar untuk apapun dan kondisi apapun
Cobalah belajar tersenyum walau rapuh.
Engkau bisakan?


La tahzan. Innallaaha ma'ana.

Makassar, 13 Desember 2015

HUJAN

Bulir2 hujan di sore ini, menemani serentetan bayangan di tempat ini.
Engkau mulai bercerita,
Canda tawa mulai mendekat,
Sesekali suara tawamu terdengar nyaring di telinga.
Bak seorang pelawak professional
Mata sipitmu mulai tertutupi oleh senyuman.
Hari ini, di tempat ini.
Kita berbagi.
Bukan cerita.
Melainkan canda dan tawa dengan aksen kita masing2.
Di tempat ini, kita bersama.
Bersama, menunggu hujan yang tak juga reda
Tapi, tahukah engkau kawan?
Engkau telah meninggalkan jejak suara tawa.
Meninggalkan, secuil ejekan yang kadang mengundang tawa.
Suatu saat nanti, disaat kita tak lagi bersama.
Di saat tangan tak lagi dapat saling menggenggam.
Izinkanlah cerita kita di hari ini ku ingat.
Di kala hujan,
Sembari menunggu hujan reda.
Meskipun hanya seorang.
Sendiri.



Spesial untukmu kawan, RAA dan DAS
Makassar, 11 Desember 2015
@KAMPUS UNM - TEKNIK

Hey, Cantik!

Menjumpai para pemilik senyum menawan, mata jeli yang memikat, dan tutur kata yang lembut tak terlupakan. Mereka, saudariku wanita muslimah.
Bagaiman kabarmu di sana? Adakah setiap detik yang berlalu telah kau maknai dengan sempurna? Tahukah kau bahwa grafik hidup kita akan terus menanjak hingga sampai ke titik tertentu, lalu kembali menurun. Dan kau saat ini sedang berada di puncak. Ya, puncak segala-galanya. Termasuk puncak kecantikanmu yang sedang merekah bak bunga di musim semi. Berlebihankah? Kurasa tidak, cantik.
Maka bersamaan dengan itu,  mungkin tanpa kau sadari begitu banyak pasang mata yang menengok saat kau melintas. Belum lagi pandangan yang mencuri-curi kesempatan dengan ujung-ujung penglihatan mereka. Meski kau tidak pernah merasa demikian dan merasa tampil biasa-biasa saja. Tapi kau tahulah….musuh bebuyutan kita sejak zaman nenek moyang : setan laknatullah yang senantiasa menghiasi seorang wanita dengan berupa-rupa keindahan saat ia keluar rumahnya.
Maka simaklah ini, Cantik. Betapa besar fitnah yang dapat timbul dari dirimu. Fitnah yang mungkin akan membuat saudara kita akan lebih sulit memejamkan mata di malam hari. Atau yang membuat mereka terbata saat mengulang hafalan-hafalan mereka. Maka mungkin ada baiknya jika kita turut membantu mereka untuk menjaga pandangannya. Ya, dengan menjaga tampilan kita. Menjaga tingkah kita. Hmm, aku tidak menyuruhmu untuk menjadi kaku dan menarik diri dari pergaulan. Bukankah agama kita mengajarkan sikap wasath, pertengahan. Maka lakukanlah segala hal sesuai dengan kapasitasnya. Sesuai dan tidak berlebihan.
Hey, Cantik. Aku terkadang sedih saat memandang foto-foto yang kau pajang di dunia maya, yah, aku tahu mungkin kau menganggapnya sebagai sebuah bentuk ekspresi diri yang menyenangkan. Tapi tahukah kau, aku selalu mencari sehelai kain yang biasanya kau tutupkan di kepalamu, yang kerap tidak tampak saat kau muncul lewat fotomu di halaman internet. Cantik, bukankah Allah melihat kita di mana pun? Di dunia nyata, maupun di dunia maya, Dialah Rabb yang sepatutnya kita ibadahi dengan total. Persis seperti totalitas saat kau mengerjakan tugas-tugas sekolah, tugas kuliah atau tugasmu di kantor. Maka bukankah menutup aurat merupakan ibadah yang agung kepada-Nya? Mengenakan pakaian takwa yang dipilihkan oleh-Nya. Yah, bukan oleh siapa-siapa tapi oleh Allah. Maka kenakanlah ia dengan niat tulus yang kuyakin ada dihatimu. Karena Allah saja, di mana pun, kapan pun.
 Cantik, aku bukanlah orang yang sempurna  dan suci seperti Ibunda Maryam. Mungkin diri ini lebih hina darimu dan lebih rendah kedudukannya di hadap Allah. Tapi sungguh…..sungguh aku khawatir akan hari di mana aku akan ditanya mengenai kewajibanku menyampaikan hal ini padamu. Maka kusampaikan ini sebagai hakmu menerimanya. Dan juga sebagai bukti betapa aku mencintai kebaikan pada dirimu.
Hey, Cantik! Tetaplah menjadi yang terindah layaknya bagaimana agama ini telah mengangkat derajat kita. Mengapa pula harus kita menutup segala keindahan itu dan menyimpannya hingga dating orang yang ditakdirkan Allah? Sebab demikianlah tiap insan akan memperlakukan berlian yang berharga.  Ia disimpan di tempat tertutup . Tidak sembarangan dipegang oleh siapa pun dan tidak dihargai dengan harga yang murah. Tapi kau tahu Cntik, betapa indahnya kau dalam lindungan syariat-Nya. Semoga kita selalu diberi kesempatan untuk saling nasihat menasihati dalam kebaikan, dan saling nasihat manasihati dalam metapi kesabaran.
Dari saudarimu.

NB : Luangkan waktu untuk membuka ayat ke-31 Surah An-Nur dan Al-Ahzab ayat ke-59. Ada pesan berharga dari Allah, khusus untuk kamu; muslimah cantik yang berharga. ^_^



Dikutip dari buku "Jeda Sejenak" karya Arrifa'ah


up