Biar kudekap segala keresahanku. Biar kutenangkan segala perasaan yang menggebu. Kamu tetaplah harus bahagia. Di dalam jiwaku kamu selalu saja ada. Tak pernah ke mana-mana. Jika kelak, kau merasa lelah bertualang. Pulanglah pada tubuhku yang telah mencintaimu. Ceritakan kepadaku segala sedihmu. Kita akan tetap bersama, sampai nanti, sampai kita mampu lagi menghitung hari. Meski kemungkinan yang tidak pernah kubayangkan, kau hanya mendekap menjadi bagian (tidak berserta raga) sebagai orang yang kucintai.
Tidak mengapa. Kamu akan masih menjadi seseorang yang penting bagiku. Aku lemah untuk melupakanmu. Perasaan padamu bukanlah perasaan yang bisa kutinggal dan aku berlari menjauh. Perasaan padamu adalah rasa yang mengikuti langkah kakiku ke mana saja aku pergi. Bahkan menenangkan diri menjauh dari kata itu tak mampu menenangkan rindu. Aku tak pernah mampu menjauhkanmu dari dalam benakku.
Aku selalu berharap dengan sungguh dan menyadari satu hal. Tidak semua orang benar-benar berani melepaskan, meski sudah dibunuh paksa hatinya. Perihal perasaan, cinta. Bukanlah hal yang bisa dihapuskan dengan pemisahan paksa. Bukanlah sesuatu yang bisa mati meski kau bersikeras dan melangkah sejauh-jauhnya pergi. Ia akan menetap di hatimu, seperti halnya ia menetap dihatiku.
Selesaikanlah semua urusanmu jika itu yang terbaik saat ini. Aku akan melanjutkan perjuanganku sendiri. Semoga kelak, kita masih punya waktu untuk meneruskan semua cita-cita dan rencana kita yang tertunda. Aku paham, pendidikanmu memang lebih penting dari aku. Hanya doa dan harapan yang bisa kujaga, aku masih ingin menempuh sisa hidup denganmu. Masih ingin melanjutkan cerita yang pernah kita rangkai bersama. Aku masihlah seseorang yang dengan tabah mencintaimu. Seseorang selalu menunggu kamu kembali. Kalau semua urusanmu sudah selesai, temui aku, kita melanjutkan semua mimpi. Namun, jika kamu tak pernah kembali, semoga saja suatu hari nanti kamu membaca catatan ini. Kamu harus tahu, aku begitu kehilangan saat kamu tiba-tiba pergi. Lalu memutuskan untuk menunggu meski tak tahu apakah kamu pasti akan kembali, atau malah menghilang bersama janji-janji.
"Tidak semua orang benar-benar berani melepaskan, meski sudah dibunuh paksa hatinya"
Dikutip dari Buku, Penulis "Boy Candra"
0 komentar:
Posting Komentar