Tak
terasa bulan Ramadhan telah berlalu. Bulan yang terlalu singkat dan rasanya
baru kemarin telah ku lalui. Penuh dengan hikmah dan kenangan bersama
orang-orang yang saya cintai.
Hatiku
saat ini benar-benar sedang berbunga-bunga. Manakala sedang mengingat senyuman
sesosok laki-laki dengan ciri khasnya sendiri. Senyuman itu seakan-akan menjadi
sebuah kado yang ku dapatkan di bulan Ramadhan. Semenjak usai lebaran hari raya
idul fitri, Terkadang saya suka senyam-senyum sendiri dan itu sepertinya
menjadi aktifitas baruku. Mungkin saja, orang yang tidak sengaja mendapatiku
seperti itu merasa kebingunan.
Tapi
itulah yang terjadi. Dihatiku selalu ada kebahagiaan tersendiri setiap kali
saya mengingatnya. Mengingat orang yang sangat misterius yang tiba-tiba hadir
dalam kehidupanku. Entah dipertemukan karena memang jodoh atau hanya kebetulan
saja.
Rasa
kagum dan penasaranku semakin menjadi-jadi. Ketika ku tahu ia adalah seorang aktivis
dakwah. Ya Rabb, apakah ini sebuah mimpi. Mimpi bertemu seorang pangeran yang
akan menjadi jodohku kelak? Seribu pertanyaan datang menghampiri pikiranku dan
ku coba ku jawab satu per satu.
Saya
mencoba menghiraukan perasaanku ini dan menganggap semuanya seolah-olah tak
pernah hadir di dalam hatiku. “Dia hanyalah seorang yang biasa yang sedang
mendapatkan tugas (berdakwah) disini dan saya hanya menganggap dia seorang
adek, tak lebih dari itu”. Pikirku dengan mencoba menyakinkan hatiku.
Usai
lebaran, ia pun kembali ke kampung halamannya dan memulai aktifitasnya seperti
sedia kala. Begitupun dengan saya, saya mencoba mengubur dalam-dalam semua
angan-angan yang pernah terbersik dipikiranku dan melupakan semuanya, termasuk
senyuman dan mimpi itu.
Roda
kehidupan pun semakin berputar dengan seiring berjalannya waktu. Dan tiba-tiba
saja, orang yang dulunya pernah ku kagumi, tiba-tiba hadir kembali di dunia
yang lain yaitu dunia maya. “Assalamu’alaikum kak, apa kabar?” sebuah pesan
singkat darinya di akun facebook-ku. Dan aku pun langsung membalasnya, “Wa’alaikum
salaam adek, Alhamdulillah, baik. Kalo adek?”. Saya pun mencoba menanyakan
kabarnya dengan agak malu. Dan begitulah pesan singkatnya, yang hampir setiap
hari masuk di pesan akunku. Tapi,entah mengapa hari ini benar-benar berbeda
dari biasanya dan terasa ada yang tidak beres dengan isi pesannya yang ketika tertulis
“maukah kakak menjadi kekasih hatiku?”. Ya Allah…apa maksud dari semua ini.
Mengapa ia datang dengan membawa pertanyaan seperti itu. Apakah ini sebuah
lelucon darinya untukku? Gumamku dengan penuh keraguan bercampur bahagia dalam
hati.
Karena
yang ku tahu ia memiliki kepribadian yang suka humoris. Saya pun mengabaikan
pesannya itu dan ku tutuplah akun ku sejenak. Dergg! Jantungku semakin berdebar
kencang dan tubuhku menggigil kedinginan memikirkan pertanyaan tadi. Jujur,
saya merasa sangat bahagia karena akhirnya apa yang sudah lama ku tunggu-tunggu
darinya, akhirnya datang juga. Tapi, dipihak lain keraguan juga datang
mendampingi kebahagiaanku. Setelah beberapa menit, saya pun membuka kembali akunku
dan membaca pesan itu dan pesan baru pun darinya datang lagi “Nggak apa-apa
kalo kakak belum bisa jawab, adek akan selalu setia menunggu”. Perasaanku saat itu bimbang dan tak karuan
dibuatnya, betul-betul membuatku heran.
Keesokan
harinya dengan bermodalkan keberanian, pesannya pun ku balas “Adek nggak
salah?”.
“Tidak
kak” jawabnya singkat.
“Atas
dasar apa adek menyukaiku karena kakak penuh dengan kekurangan dan adek masih
bisa mendapatkan yang lebih baik lagi dariku”. Balasku
“Saya
mencintai kakak karena Allah dan dialah yang memberikan rasa cinta ini untuk
kakak”. Jawabnya agak sedikit bijak
“Apakah
adek yakin dengan hal itu?” tanyaku dengan penuh keraguan
Iya
pun membalasanya “Iya kak”. Rasanya hatiku saat ini ingin terbang ke langit
dengan bebas dan jiwa ini seperti bersemayan di alam mimpi. Ya Rabb, apakah ini
semua rencana-Mu? Mungkinkah dia betul-betul jodohku? Apakah dia., apakah dia
dan apakah dia..? Lagi-lagi seribu macam pertanyaan datang lagi mengusik
ketenangan ku, ketenangan pikiranku saat itu.
Jika
memang itu betul, maka aku akan memberinya jawaban ‘iya’. Saya pun meminta waktu
beberapa hari untuk memikirkan dan mempertimbangkan pertanyaannya itu. Setelah
beberapa hari ku pikirkan, aku pun memberinya jawaban.
“Kalau
alasan adek memang benar, biklah kakak bersedia”. Balasku dengan sedikit
keraguan.
Kebahagiaan
pun kami rasakan berdua dan sejuta do’a
dan impian kami panjatkan kepada sang pemilik dan pemberi rasa cinta dan rasa
sayang ini kepada kami.
Kami
sangat bersyukur sekali karena Tuhan telah mempertemukan kami dalam pertemuan
yang singkat dibulan yang suci dan penuh berkah tahun ini, bulan Ramadhan. Kami
akan membangun cinta dan menjaga amanah (rasa) yang telah diaberikan, tanpa
melampui batas. Dikala rindu datang menyapaku, aku hanya mampu memendam dan
menepisnya dalam diam. Ku ambil air wudhu dan aku pun mengenakan mukenah
kesayanganku pemberian dari mama. Ku curahkan semua inginku dan rasaku kepada
sang Khalik, termasuk rasa RINDU ini. “Ya Allah, salahkah bila aku merindukannya?
Berdosakah bila aku merindukan dirinya, jika iya maka tegurlah aku. Dan jangan
biarkan aku hanyut dalam rasa Rinduku ini”. Pintaku padamu Ya Rabb. Air bening pun
pecah dari mataku dan jatuh mengalir membasahi pipiku. Ya Rabb, satukanlah
cinta kami dalam ikatan yang engkau ridhoi, satukanlah cinta kami dalam ikatan
yang suci yaitu PERNIKAHAN.
Rasa
rindu ini menyiksa batinku dan mengganggu tidurku. Saat Rindu ku bawa ke dalam
tidurku, ia hadir dalam mimpiku. Menyapaku sambil tersenyum padaku. Huugh, senyuman
itu, senyuman itu benar-benar indah dan membuat tidurku nyenyak. Rasa Rindu ini
semakin menjadi-jadi dan mengakar di hatiku. Apakah dia juga merasakan hal
sepertiku, merasakan rindu yang sudah lama kupendam. Entahlah, tapi ku harap
dia juga merasakan hal itu.
Maaf,
saya hanya bisa mencintaimu dengan biasa dan apa adanya saja. Tapi percayalah,
jika ijab telah terlontar dan cintamu telah memilihku, maka ku akan mencintaimu
dengan luar biasa. Jadi, bersabarlah menanti hingga waktu itu tiba.
Itulah
sepenggal pertemuan dan kisah cintaku beberapa tahun yang lalu bersamanya.
Aku
merasa wanita yang paling bahagia didunia saat ini karena hari ini, aku akan
melangsungkan acara walimahku dengan orang yang sangat ku cintai, siapa lagi kalau
bukan dia ‘si misterius dan si pemilik senyuman maut itu’.
Kebahagiaan
pun terpancar dari wajahnya dan hari ini adalah momen-momen yang paling
bersejarah yang takkan pernah aku lupa dalam hidupku. Oh, Ya Rabb rasanya saat
ini saya sedang berkelana di alam mimpiku. Mimpi ikut audisi pemilihan ratu sejagad
untuk menjadi istri dari seorang raja dan akhirnya sayalah yang memenangkan
audisi itu. Sayalah yang terpilih menjadi seorang ratu dari sekian banyak
peserta disebuah istana.
Pesta
pernikahanku pun berlangsung meriah, hidangan pesta begitu mewah, gedung begitu
megah dengan latar warna biru yang dihadiri oleh tamu-tamu terhormat dan aku mengenakan
gaun pengantin lengkapdengan kerudung berwarna putih yang begitu indah nan
cantik, bagaikan putri raja yang tak pernah ku bayangkan jauh sebelumnya. Namun
itu semua tidaklah terlalu berarti buatku, karena yang sangat berarti bagiku
adalah calon suami dan calon imamku. Ijab kabul pun sudah terucap dari
bibirnya, legahlah perasaanku karena sekarang aku sudah resmi menjadi istrinya
yang sah dan cintanya telah memilihku seutuhnya. Taka da lagi wanita yang dapat
memiliki cintanya kecuali akau, iya kecuali aku.
Senyum
kebahagiaan terukir di bibir kami dan lantunan doa-doa pengharapan bergema di
hati kami dan bertambahlah rasa cinta dan syukur kami kepada sang pencipta dan
sang pengatur segalanya atas nikmat-Nya.
“Bidadariku,
syukron telah bersedia mendampingiku dan mau menerima segala kekuranganku”.
Ucap Mas Ahmad dengan lembut. Aku tersenyum dan tersipu malu dibuatnya,
“sama-sama mas” jawabku pelan.
Kini
tibalah saatnya aku mencintainya dengan luar biasa dan ku coba untuk menjadi
istri yang sempurna dan sesempurna mungkin untuknya, meskipun ku tahu bahwa
kesempurnaan itu hanyalah milik Allah azza wajalla. Inilah puncak kebahagiaan
dalam hidupku yang dulu pernah ku impikan dan ku rencanakan. Mengiringi bahtera
rumah tangga bersamanya dan ia akan menjadi imamku, membimbingku agar semakin bertambah
keimanan dan rasa cintaku kepada sang Khalik.
Hari-hariku
pun penuh dengan warna-warni kehidupan dengan kehadirannya. Ia selalu bekerja
keras dan berusaha untuk memberikan nafkah lahir dan batin untukku. Tak lama
setelah menikah, suamiku menghadiahkan sebuah rumah untukku, meskipun tidak
terlalu mewah tapi biarlah cintanya yang akan membuat rumah itu menjadi mewah,
apalagi kalau rumah itu sudah dihuni oleh seorang malaikat kecil pasti
kebahagiaan kami akan semakin terasa lengkap.
Dikeheningan
malam, kala sepi telah datang menemani. Suamiku selalu bangun tuk bertemu
dengan kekasihnya yang kekal dan ia juga selalu membangunkan ku untuk
menemaninya dan berdiri di belakangnya menjadi ma’munnya. Dalam sujud, kami
menyampaikan semua keluh kesah dan keinginan kami padanya.
Selain
itu, mas Ahmad juga selalu melaksanakan shalat dhuha bersamaku. Sesibuk apapun
pekerjaanya, tapi ia selalu menyempatkan diri untuk melaksanakan ibadah
tersebut. Kami saling mengingatkan tentang masalah-masalah ibadah terutama
persoalan sholat, meskipun suamiku terkadang berada diluar rumah karena
tuntutan pekerjaan tetapi komunikasi diantara kami berdua selalu lancar. Karena
itulah salah satu faktor untuk menjaga kerukunan keluarga kami agar selalu
harmonis. Saya sangat bersyukur mempunyai suami seperti mas Ahmad, selain
karena ketampanannya ia juga rajinnya beribadah.
Genap
2 bulan kami menikah, akhirnya aku mengandung, suamiku sangat bahagia dan raut
wajahnya pun berseri-seri memancarkan hawa kebahagiaan. “Alhamdulillah yaa Rabb” kembali aku bersyukur dan bersujud pada-Mu
karena satu-persatu kebahagian engkau kirimkan padaku. Dan semakin bertambahlah
rasa syukur kami berdua kepada sang Pencipta karena telah memberikan hadiah
terindah dalam rumah tangga kami.
Setiap
hari suamiku selalu memanjatkan doa kepada Allah supaya janin yang aku kandung
akan terlahir dengan selamat dan kelak akan menjadi generasi penerusnya. Ia
selalu berpesan padaku agar selalu berhati-hati dan menjaga kandunganku.
“Umy mau punya anak laki-laki atau perempuan?”. Pertanyaan
itu tiba-tiba saja terucap darinya.
Saya
pun tersenyum dan memandanginya sambil berkata “Laki-laki ataupun perempuan,
itu sama saja bagi umy karena semua itu adalah titipan dan rejeki dari Allah, yang
penting ia terlahir dengan sehat dan akan menjadi anak soleh(a) dan berbakti
kepada kedua orang tuanya abi”.
Akhirnya
tibalah saatnya aku untuk melahirkan dan suamiku adalah suami yang selalu siap
siaga dan selalu setia menemaniku. Setelah beberapa jam menunggu, akhirnya aku
melahirkan. Alhamdulillah, aku
melahirkan secara normal. Ternyata bayi yang ku lahirkan adalah bayi berjenis
kelamin laki-laki.Senyum bahagia pun terukir di bibirku saat itu, “pasti abi
sangat bahagia kalau mengetahui bayi yang aku lahirkan adalah laki-laki” kataku
dalam hati.
Suamiku
pun masuk dan mengumandangkan adzan pada malaikat kecil ku yang mungil dan lucu
itu. Suasana dalam rumahku pun semakin bertambah mewah dengan kehadiran bayiku
dan keluarga besar ku dan mas Ahmad juga datang melihat bayiku. Seiring
berjalannya waktu, bayiku tumbuh menjadi laki-laki remaja dengan mewarisi sifat
dan ketampanan ayahnya. Dunia ini pun seakan-akan menjadi milikku, suamiku dan
anakku. Rasa syukurku pun semakin bertambah kepada sang khalik karena ia telah
memberikan kado terindah yang sangat mahal harganya dan tak dapat ditukarkan
dengan apapun yaitu kado yang berisi KEBAHAGIAAN. Inilah hasil dari apa yang kami
usahakan selama ini dan Allah pun membalasnya sesuai dengan seberapa besar
usaha kami. Beginilah rasanya, manisnya buah keimanan dan ketakwaan.
Ukhty
tetaplah shalihah, meski zaman telah berubah. !!!

0 komentar:
Posting Komentar