Al Khansa
radhiyallahu’anha :
Wanita
Penyabar, Ibu Para Mujahid
Ia
adalah Al-Khansa’, namun nama sebenarnya adalah Tumadhar binti ‘Amr bin Syuraid
bin ‘Ushayyah As-Sulamiyah. Al Khansa’ merupakan seorang sahabat wanita yang
mulia dan sangat terkenal sebagai penyair.
Al-Khansa’
wanita yang bijaksana dan cerdas. Semua orang mengetahui kedudukan dan
keahliannya yang luar biasa dalam berpuisi. Bahkan, semua sastrawan sepakat
bahwa tidak ada wanita yang memiliki kekuatan puisi yang lebih hebat dari
Al-Khansa’, baik di masa lalu maupun masa berikutnya.
Selain
mahir berpuisi, sebenarnya Al-Khansa’ juga memiliki kepribadian yang sangat
kuat, akhlak mulia, pandangan yang tajam, sabar dan berani.
Masuk
Islam
Takdir
Allah Swt akhirnya menghendaki iman berarak di atas Al-Khansa’ yang kemudian
menumpahkan air hujan keimanan ke dalam dadanya, hingga iman menyentuh lubuk
hatinya yang paling dalam dan memberi denyut kehidupan hakiki kepadanya.
Al-Khansa’ bangkit dengan menepis debu-debu jahiliyah dan mengusung panji
tauhid untuk memberi pelajaran kepada seluruh jagat raya yang tidak akan
dilupakan dalam catatan sejarah sepanjang masa.
Al-Khansa’
ikut dalam rombongan kabilahnya, Bani Sulaiman, untuk menemui Nabi Saw. dan
menyatakan keislamannya. Al-Khansa’ sangat sedih dan menangisi perjalanan hidup
yang telah dilaluinya yang jauh dari cahaya iman dan merasa telah tertinggal
begitu jauh dari sekian banyak kebaikan. Untuk itu, ia bertekad untuk mengejar
ketertinggalannya dan rela mengorbankan apa saja yang dimiliknya demi membela
agama yang agung ini.
Keadaannya
berubah total setelah ia masuk Islam, ujian yang dialaminya menjadi kesabaran
yang didasari iman dan dihiasi oleh takwa, hingga ia tidak lagi merasa sedih
ketika kehilangan apa pun dari kenikmatan duniawi ini.
Ketika
Mutsanna bin Haritsah asy-Syaibani berangkat ke Qadisiyah di masa Umar bin
Khattab radhiyallahu’anhu, Al-Khansa’ turut berangkat bersama keempat puteranya
untuk menyertai pasukan tersebut.
Empat
putera kandung Al-Khansa’ yang merupakan buah hati dan denyut jantungnya,
bergabung dengan pasukan muslim yang ditugaskan menyerang Qadisiyah. Sehari
sebelum perang, Al-Khansa’ ra. Menyampaikan beberapa wasiat kepada
putera-puteranya,
“Hai
Putra-putraku, kalian semua memeluk Islam dengan suka rela dan berhijrah dengan
senang hati. Demi Allah yang tidak ada Tuhan selain Dia, sesungguhnya kalian
adalah keturunan dari satu ayah dan satu ibu. Aku tidak pernah merendahkan
kehormatan dan merubah garis keturunan kalian. Ketahuilah, sesungguhnya
kehidupan akhirat jauh lebih baik daripada kehidupan dunia yang fana.
Putra-putraku,
sabarlah, tabahlah, bertahanlah, dan bertakwalah kepada Allah. Semoga kalian
menjadi orang-orang yang beruntung. Jika kalian melihat gendering perang telah
ditabuh dan apinya telah berkobar, maka terjunlah ke medan laga dan serbulah
pusat kekuatan musuh, pasti kalian akan meraih kemenangan dan kemuliaan, di
dalam kehidupan abadi dan kekal selama-lamanya”.
Keesokkan
harinya, mereka terjun ke medan laga dengan gagah berani. Jika ada seorang di
antara mereka yang semangatnya mulai surut, maka saudara-saudaranya langsung
mengingatkannya dengan nasihat Ibunda mereka yang telah tua renta, dengan
begitu semangatnya berkobar kembali dan menyerbu musuh seperti singa yang
mengamuk. Serangan-serangannya seperti siap melumat musuh-musuh-Nya. Mereka
tetap berjuang dengan penuh semangat, hingga satu persatu berguguran menjadi syuhada.
Sebelum
jatuh ke tanah dan meraih mati syahid, setiap orang dari putra Al-Khansa’ ra.
Itu sempat melantunkan pernyataan yang dirangkai dalam bait-bait puisi:
Putra
pertama berkata,
Saudara-saudaraku,
wanita tua yang memberi nasihat itu
telah
memberi nasihat kepada kita tadi malam
Nasihatnya
sangat jelas dan pernyataannya lugas
Kalian
akan berhadapan dalam pertempuran
Dengan
bala tentara pasukan Sasan (Persia)
Mereka
hanya seperti anjing yang melolong
Putra
kedua berkata,
Sesungguhnya
wanita tua itu
yang
tekadnya bulat dan tegar itu
Telah
menyuruh kita agar tetap teguh dan benar
Itulah
nasihat yang menunjukkan kasih sayangnya kepada kita
Maka
teruslah berperang dan habisi musuh sebanyak-banyaknya
Putra
ketiga berkata,
Demi
Allah, kita tidak akan melanggar sedikit pun nasihat wanita tua
Karena itu
nasihat dan bukti kasih sayang yang tulus dan lembut
Kobarkan
semangat perang dan serbulah pasukan musuh
Hingga
kalian berhasil melumat pasukan Kisra habis-habisan
Putra keempat
berkata,
Aku tidak
pantas menjadi anak Al-Khansa’ dan Akhram
Aku tidak
pantas menjadi orang terhormat yang membanggakan
Jika tidak
berada di garis depan pasukan melawan pasukan ‘Ajam
Menyerbu
tanpa rasa gentar dan melibas setiap rintangan
Ketika
sang Ibunda mendengar berita kematian empat puteranya dalam hari yang sama, ia
sama sekali tidak menampar pipi sendiri dan tidak pula merobek pakaiannya,
melainkan menerima berita duka itu dengan penuh keimanan dan kesabaran.
“Alhamdulillah
yang telah memberiku kemuliaan dengan kematian mereka. Aku berharap, Allah akan
mengumpulkanku dengan mereka di tempat limpahan kasih sayang-Nya”, harap
Al-Khansa’.
Di
masa jahiliyah, Al-Khansa’ ra. Memenuhi dunia dengan tangisan dan keluh kesah
atas kematian saudara kandungannya, Shakhr. Setelah ditempa oleh Islam dengan
luar biasa ia sanggup merelakan empat putera kandungnya sendiri untuk meraih
mati syahid dalam perang Qadisiyyah.
Ia
begitu tulus dan tabah dengan pengorbanan besarnya itu demi meraih anugrah
menjadi penghuni surga, karena Rasulullah Saw. pernah bersabda,
“Siapa
yang merelakan tiga orang putra kandungnya (meninggal dunia), maka dia akan
masuk surga. Seorang wanita bertanya, bagaimana jika hanya dua putra?,
Rasulullah Saw. kemudian menjawab: ‘begitu juga dua putra”. (Diriwayatkan oleh
Nasa’I dan Ibnu Hibban dari Anas radhiyallahu’anhu dalam kitab Al-Albani
Shahiihul Jaami’ no 5969).
Sumber
:
Mahmud
Al-Mishri, 35 Sirah Nabawiyah : 35 Sahabat Wanita Rasulullah saw., Al-I’tishom,
2012, Jakarta.
Teguh
Pramono, 100 Muslim Terhebat Sepanjang Masa, Diva Press, 2012, Jogjakarta.

0 komentar:
Posting Komentar