Bukan Kunang - Kunang - Dikpa Sativa


Berbulan-bulan tak ada rayu kau bisikkan di telingaku
lalu kulihat tubuhku menggelepar,
haus, dan terus menunggu di depan pintu
katamu, “bukankah ini jalan terbaik, sayang?”
jalan untuk mencintai Tuhan

Lalu kau meninggalkan bekas titik air mata
yang kelak kusimpan rapi di dalam kepala
dan lemahku telah kau sulap menjadi aku yang tak kutahu
kau pergi setelah membisikkan perubahan

Kau tahu, aku terasingkan begitu lama
dalam kamar yang lusuh dengan bau kenangan yang menyengat
pohon-pohon rindu tumbuh di dindingnya yang kusam
di sana aku belajar mencintai ketiadaan

Kemudian di suatu pagi aku melihatmu datang
membawa kunang-kunang di kantong celanamu
katamu, “aku punya cara lain mencintaimu”

Pohon-pohon itu terus tumbuh
membentuk sulur-sulur yang dengan paksa mengeluarkanku
dan kulihat lagi kau, menunggu di depan pintu
bukan membawa kunang-kunang tapi cinta Tuhan
katamu, “jangan marah, aku hanya ingin menikahimu.”
Itu saja. Dan aku melihat banyak warna.

0 komentar:

Posting Komentar


up