BIDADARI YANG KAU ANGGAP TERORIS



Tak terasa kini usiaku sudah beranjak 18 tahun, tumbuh dan berkembang di era modern. Dunia kampus pun sudah mulai ku geluti, memahami lingkungan,  mencari dan terus mencari sahabat yang nampak asing bagiku. Yah, ini adalah awal ceritaku menjadi seorang mahasiswa.  Berbeda suku, adat, penampilan dan bahasa. Namun itu semua tidak menjadi suatu penghalang untuk berteman dan berbagi cerita. Indonesia memang hebat, hebat akan budaya dan bahasanya. Belum lagi keragaman rempah-rempah dan makanan tradisional dari berbagai daerah yang mengundang kalangan dari penjuru dunia untuk menikmatinya. Seiring berjalannya waktu, saya pun dapat beradaptasi dengan lingkungan dan orang-orang yang berada di sekitarku. Terik panas matahari di siang ini seakan membakar tubuh, dan bayangan pun selalu setia menemani setiap saat. Terasa berbeda dari hari-hari sebelumnya. Jejeran tulisan dan artikel tertempel di mading, ku telusuri satu persatu rubrik-rubrik mading itu. Dan ku temukan satu bacaan yang sangat menyentuh dan aku pun berusaha untuk melogikan deretan huruf tersebut “Sesungguhnya, Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, hingga mereka mengubahnya sendiri. (Qs. Ar-Ra’du [13] : 11)”. 
Puuuukk, suara tepukan di bahuku dari belakang pun mengangetkan ku. “Aduuh, siapa sih itu bikin kaget saja.” Ujarku sedikit kesal dan penasaran. Ku putar kepalaku dan pandanganku pun tertuju padanya. Ternyata, dia wanita berkerudung panjang dan bercadar. Rasa penasaranku pun semakin menjadi-jadi. Apalagi, cuma matanya yang kelihatan. Diapun menyodorkan tangannnya padaku.
“Siapa nama ta dek?” Tanyanya dengan logat daerah Makassar.
“Aisyah kak.” Jawabku sambil tersenyum.
Adek sudah sholat zuhur?
Belum kakak, ini baru mau berangkat. Tapi masjid di fakultas ini, di mana yah kak? Tanyaku.
Kalau begitu, kita sama-sama pergi sholat soalnya adzan sudah memanggil. Jawabnya sambil mengajak.
Di dalam perjalanan, kami pun berbincang-bincang dan saling mengenal satu sama lain. Beberapa menit kemudian, akhirnya kami pun sampai di masjid. Ku buka pintunya dengan pelan dan lembut. Ku langkahkan kaki dengan mesra menuju tempat wudhu. Aneh, kebanyakan yang ku temui wanita yang berkerudung panjang dan cadar. Siapa sebenarnya mereka dan jurusan apa? Tanyaku dalam hati dengan penuh penasaran. Usai wudhu dan memakai mukenah, iqomah pun di kumandangkan. Ku ambil barisan paling depan dan ku luruskan shafku. Seorang wanita yang mengenakan kerudung panjang berdiri tepat disampingku dan merapatkan kakinya menyentuh kakiku. Hatiku  bertanya-tanya, kenapa dia seperti itu?. Aneh, biasanya kalau sholat di kampung biasa-biasa saja dan tidak seperti ini. Astagfirullah, sudah takbir ternyata. Ku nikmati gerakan sholatku dan ku tenangkan hati dan jiwaku dengan bacaan firman-firman Allah yang begitu indah. Gerakan salam pun menjadi akhir dan penutup dari sholatku. Masya Allah, suasananya sejuk sekali di masjid ini sambil memandangi langit-langit masjid.
“Dek, bisa kultum sebentar” ajakan itu sedikit mengangetkan ku.
“Oh, iya kak” jawabku dengan cepat
Saya pun mendengarkan materinya dengan seksama. Setelah selesai, satu per satu wanita berkerudung panjang dan bercadar pun datang menyapaku dan berkenalan. Mereka memberikan beberapa siroman Qalbu, penyejuk hati. Ku perhatikan posisi jarum jam tanganku tanpa mengedipkan mata. “Haah, sudah jam 1” ucapku dalam hati. Ku tarik kos kaki ku dengan cepat dan ku ambil tas ransel ku. Lalu, sayapun berpamitan kepada mereka dengan terburu-buru. Sesampainya di dalam kelas, dua orang sahabat menyambutku dengan senyuman sederhana darinya. Kerudung segiempat adalah ciri khas kerudung yang setiap harinya ia kenakan, sama sepertiku. Mereka adalah sri dan hadija.
Tak terasa semester satu telah selesai, dan kini semester dua telah menanti. Mata kuliah yang berbeda dan semakin menantang. Pas pertama masuk kuliah, saya pun di kagetkan oleh penampilan dari dua sahabatku. Betul-betul berubah. Kini ia telah mengenakan kerudung panjang juga. Hari demi hari telah terlalui. Mereka memberikan sebuah undangan padaku.
“Ini undangan apa?” Tanyaku padanya
“Itu undangan ANDROID kegiatan akhwat, datang yah besok soalnya materinya bagus sekali.”Jawabnya sambil mengajak dan  tersenyum.
Karena merasa penasaran, saya pun menghadiri kegiatan itu. Materi demi materi tersajikan dengan baik dan sangat bermanfaat. Beruntung sekali bisa datang di kegiatan ini, materinya semua tentang agama islam. Lantunan ayat suci al-qur’an terdengar sangat merdu dan lagu nasyid pun menjadi hiburan bagi peserta. Semua peserta merasa begitu menikmati nasyid dan tampilan slide-slide motivasi serta video perjuangan rasulullah saw. beserta sahabatnya di zaman dahulu. Setelah rangkaian kegiatan selesai, kami pun di bagi menjadi beberapa kelompok dan sekaligus penentuan nama naqibah dan murabbiyah tiap halaqah dalam tarbiyah nanti.
Hari pertama tarbiyah, saya sehalaqah pun berkenalan satu sama lain. Begitu pun dengan murabbiyah ku. Murabbiyah ternyata seorang wanita berkerudug panjang dan bercadar juga. Namun, penampilan yang seperti itu sudah tak asing lagi  bagiku. Karena sudah lama berinteraksi dengan mereka, belajar tentang menjadi wanita muslimah darinya. Tak lama kemudian, murabbiyahku pun menceritakan pengalaman pertamanya saat pertama hijrah. Pada awalnya, dia banyak mendapat cibiran dari sana sini. Selain itu mereka juga pernah dipanggil lain oleh anak kecil. Tapi itu semua tak akan membuatnya menyerah dan akan tetap bertahan pada keputusan yang ia ambil yaitu HIJRAH (menjadi lebih baik). Dan dia pun menyampaikan ayat-ayat yang memerintahkan wanita muslim untuk berjilbab, sebagaimana firman Allah swt dalam : " Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka Menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atauayah suami mereka, atau putera-putera mereka,atau putera-putera suami mereka,atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau     putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah,Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung." (QS An Nuur:31) dan "Hai Nabi, Katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin:"Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka".yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu merekatidak di ganggu. dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (al ahzab:59).
Tarbiyah pun rutin ku hadiri dan materi-materinya membuatku tersentuh. Tiap hari dan malam selalu terpikirkan tentang kerudung panjang. Kapan, aku bisa seperti mereka? Memakai kerudung panjang, menjadi wanita perindu syurga dan berjihad di jalan Allah (berdakwah). Semua itu akan mendapat balasan SYURGA. Tidakkah engkau tergiyur? (tanyaku sambil menunjuk diri sendiri).
Alhamdulillah, hari ini ku putuskan untuk memakai jilbab panjang. Tak ada lagi pakaian tipis dan ketat, tak ada lagi pakai trend dan gaul. Aku pun mempersiapkan benteng pertahanan yang kuat untuk menerima semua cibiran dan celoteh orang-orang yang berpikiran salah tentang pakaianku. Kami bukan teroris, tapi kami adalah ibarat bidadari, perhiasan terindah dunia dan insyaa Allah akan menjadi penghuni syurga kelak. Aamiin. Hari-hari ku semakin berwarna dan bermakna ketika berkumpul dengan mereka. Berbagi cerita, saling memotivasi untuk tetap Istiqomah di jalan-Nya (Allah). Inilah pakaian muslimah yang sebenarnya dan sudah jelas diperintahkan di dalam Al-Qur’an.  Lantas, mengapa engkau tidak mau mengenakannya , wahai saudariku. Bahkan engkau tidak mau mengenalnya sama sekali. Apa yang engkau takutkan? Takut tentang rezeki dan tidak akan mendapatkan pekerjaan dan jodoh. Ah, itu hanyalah pemikiran yang salah. Ketahuilah, bahwa rezeki, pekerjaan dan jodoh itu murni datangnya dari Allah swt. Selama kita masih mau berusaha dan tetap berdo’a, insyaa Allah itu semua akan kita dapatkan. Dan orang yang mendapatkan rezeki lebih dan pekerjaan yang bagus, itu bisa saja lenyap semua secara      tiba-tiba dengan izin Allah. BERHIJRALAH, wahai saudariku. Jangan takut, karena Allah akan selalu mengirimkan seseorang yang akan membimbing dan menemanimu. Dan untuk saudariku yang sudah berhijrah, penganglah erat-erat Hidayah itu dan jangan pernah engkau lepaskan dari genggamanmu.
♥ Keep Istiqomah ukhty dan tetaplah sholehah meskipun zaman telah berubah. ♥





Kontributor di  EVENT “HIJRAH” BY GORESAN PENA PUBLISHING DL 7 MARET 2015

0 komentar:

Posting Komentar


up